Monday, March 30, 2009

Change! World Economics Order Needs To Overhaul Fundamentally

Assalammu'alaikum Wr Wb.

Dalam rangka menyambut Pertemuan tingkat tinggi G 20 yang akan berlangsung di London Inggris pada tanggal 1 April 2009 dan dihadiri oleh para pemimpin dari 20 negara termasuk negara-negara Eropa, Brazil, Australia, Rusia, China, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Mereka akan ditemani oleh para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari masing-masing negaranya. Ada pembicaraan yang menarik oleh peraih nobel ekonomi Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz.

Sebenarnya berbicara mengenai ekonomi dunia sepertinya seperti berbicara di atas awang-awang dan hanya para ekonom yang memahami, mungkin karena suasana krisis di dunia belum sepenuhnya dirasakan oleh Indonesia seperti di tahun 1997-1998. Namun demikian angin itu akan segera datang cepat atau lambat, dan apabila tidak bersiap badai krisis juga akan menimpa negara republik yang kita cintai ini.

Ada sebuah cerita dimana seekor sapi muda merasa sangat berbahagia dimana setiap hari si pemilik selalu memberikan makanan rumput berkualitas tinggi, dan yang dia perlu lakukan setiap harinya hanya makan/minum cukup dan istirahat. Dia tidak pernah terbayang (barangkali karena seekor sapi:) ) bahwa ketika sebuah hari besar tiba seperti hari lebaran, maka pada saat itu juga si sapi akan segera disembelih tanpa dia sadari sebelumnya karena si pemilik begitu baiknya setiap hari selama 6 bulan memberi makan kepadanya. Dia tidak pernah mengira bahwa hari itu akan tiba.

Bisa jadi cerita di atas juga akan menimpa kepada kita, karena kita tidak sadar bahwa the day of reckoning akan tiba dan kita belum sempat melakukan apapun karena kita mengira hal tersebut tidak akan terjadi.

Ketika saya membaca hasil interview antara Presiden Barack Obama dengan Financial Times menunjukkan masih belum ada langkah-langkah nyata yang radikal untuk merubah keadaan yang diharapkan pada kelompok G20. Langkah-langkah radikal tersebut dapat dibaca pada sambutan pidato Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz di Shanghai tanggal 17 Maret 2009, berikut adalah cuplikannya:

Peraih Nobel Ekonomi 2001, Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz berbicara di depan pemirsa di Shanghai 17 Maret 2009 menyerukan akan adanya perubahan fundamental pada orde ekonomi dunia melaui system global reserve baru dan pembentukan institusi multilateral di luar IMF dan World Bank untuk mengembalikan ekonomi dunia ke kondisi semula.

Indonesia sendiri berusaha melepaskan tekanan dari US Dollar melalui BCSA (Bilateral Currency Swap Agreement) dengan China sehingga kebutuhan akan US Dollar akan sedikit menurun dan memberikan diversifikasi valas.

Menurut beliau sumber dari kekacauan ini adalah ketidakadilan ekonomi sebagai sumber permasalahan sehingga menyebabkan krisis.

Ketidakadilan ekonomi telah menyebabkan krisis KPR yang menyebabkan krisis finansial dan sistem reseve US dollar yang menyebabkan Amerika Serikat mengekspor krisis dan menjadi krisis global.

Ketidakadilan ekonomi memiliki arti bahwa kita memindahkan uang dan aset dari orang-orang yang tidak seharusnya tidak mampu yang dipaksa membelanjakannya kepada orang-orang kaya yang tidak mau membelanjakan uang ata aset mereka. Orang-orang ini dipaksa untuk berbelanja dan diberikan pinjaman oleh lembaga keuangan (bank maupun non-bank), Dr. Stiglitz menjelaskan bahwa ketidakadilan membiarkan pembuat kebijakan untuk melakukan penciptaan akan kebutuhan deregulasi dan kebijakan moneter yang kendor untuk menstimulisasi ekonomi yang menghasilakn likuiditas yang berlebihan sehingga menyebabkan bubble KPR di Amerika Serikat di tahun 2003 sampai dengan tahun 2007.

Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun hampir di seluruh dunia. Jumlah rumah kosong dan orang-orang yang gelandangan sangat besar di Amerika Serikat, dan masalah kemiskinan, pengangguran di negara berkembang yang artinya bahwa "sistem supply dan demand tidak bekerja", hal ini perlu dirubah!!

Prof. Stiglitz menyerukan dunia untuk mengubah arah ekonomi pada jalan yang konsisten dengan visi ke depan dan menyelesaikan permasalahan kebutuhan jangka panjang bukan menciptakan kembali sistem yang sudah gagal.

China sebaliknya memiliki rencana 5 tahunan yg. kesebelas kalinya untuk membangun ekonomi yang inovatif untuk merekstrukturisasi ekonomi untuk lebih ramah lingkungan dan memfokuskan ekonomi dari ketergantungan ekspor kepada konsumsi dalam negeri dan investasi.

negara-negara berkembang di kawasan Asia, telah menimbun cadangan US dollar secara berlebihan yang menimbulkan adanya penurunan aggregate demand, dan menurut Prof. Stiglitz disebabkan oleh manajemen buruk IMF pada krisis finansial di Asia di tahun 1997 hingga 1998. Dan ditambah degan adanya penurunan konsumsi negara-negara berkembang dan diikuti / diimbangi oleh konsumsi berlebihan di Amerika Serikat.

Jelas hal ini merupakan fenomena aneh pada ekonomi global yang menyebutkan bahwa negara-negara terkaya harus melakukan konsumsi melebihi kemampuannya untuk menjaga agar ekonomi global tetap dapat bertumbuh.

Di lain pihak, adalah sebuah ironis ketika krisis global menyebar dari Amerika Serikat menuju dunia secara keseluruhan. Menyebabkan masyarakat di negara berkembang mereka mengkoleksi valas US Dollar walaupun sebenarnya nilainya makin menurun.

Menurut Prof. Stiglitz sistem global reserve hanya pada satu currency menyebabkan masalah karena seluruh dunia harus melihat ekonomi berbasiskan satu mata uang dimana negara miskin meminjamkan uang kepada negara kaya pada suku bunga hampir nol persen dibandingkan dengan membelanjakan di dalam negerinya.

Hal ini menyebabkan berlebihnya menurunnya aggregate demand dunia dan Prof. Stiglitz menyerukan adalanya diversifikasi sistem global reserve atau penciptaan sistem reserve yang bersifat regional seperti pada inisiatif Chiang Mai yang merekomendasikan Cina, Jepang dan Korea untuk mengkontribusikan 80 persen pool of fund yang akan digunakan untuk membantu 10 negara di Asia pada saat krisis atau ketika dibutuhkan.

Pada saat yang bersamaan Prof. Stiglitz juga menyerukan adanya institusi multilateral yang baru di luar IMF dan Bank Dunia. Beliau melihat IMF bukanlah institusi yang baik untuk diberi uang karena mentalitas Wall Street yang memaksakan deregulasi dan kebijakan pro-cyclical yang menyebabkan masalah pada ekonomi dunia. Hal ini menyebabkan banyak negara tidak bersedia bekerja sama dengan IMF yang menyebabkan usaha untuk mendesain paket stimulus global menjadi kurang penting.

Beliau juga mengatakan adanya sebuah kebutuhan untuk melakukan diversifikasi cara untuk disbursement/expenditure termasuk di dalamnya pertimbangan untuk penciptaan fasilitas baru, insititusi baru, dan pengaturan peminjaman baru serta sistem manajemen baru, yang memberikan pertimbahan lebih baik kepada baik negara-negara berkembang maupun negara-negara donor. Dia mencontohkan inisiatif yang dilakukan di negara-negara Asia untuk menciptakan AMF (Asian Monetary Fund) yang terjadi juga di Amerika Selatan, yang pada akhirnya memerikan dukungan terhadap diversifikasi bagi negara-negara berkembang.

Prof. Stiglitz juga beranggapan bahwa Cina memiliki peranan yang sangat penting di dalam krisis finansial untuk membantu negara-negara berkembang. Cina dan negara-negara lainnya akan dengan cepat menciptakan fasilitas baru untuk mendapatkan uang dan membelanjakannya dalam rangka membantu negara-negara lain yang membutuhkannya. Hal ini sangat konsisten dengan prinsip-prinsip deplomasi Cina dan kebutuhan makro ekonominya.

Wallahu'alam bi showab



Tuesday, March 24, 2009

A Short Story About Little Happiness

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

"My major hobby is teasing people who take themselves & the quality of their knowledge too seriously & those who don’t have the courage to sometimes say: I don’t know...." (You may not be able to change the world but can at least get some entertainment & make a living out of the epistemic arrogance of the human race).-- quoted by Nassim Nicholas Taleb


Saya sedikit tergelitik salah satu cerita pendek pada hasil karya tulisan Nassim Nicholas Thaleb yang menceritakan mengenai seseorang pengacara yang bernama Mac yang telah sukses sebagai lulusan universitas terbaik di Amerika Serikat (Yale & Harvard) dan tinggal di kawasan elit di upper Manhattan (New York) namun harus bercerai dengan istri pertamanya yang bernama Janet, karena Janet tidak merasa bahagia dan kurang perhatian dari suamiya.

Padahal dibandingkan dengan teman-temannya terutama dari bangku SMA, Mac termasuk dalam kategori 99,5% tersukses dari sisi karir dan material, kemudian dibandingkan dengan teman-teman kuliahnya mungkin Ia masuk golongan di atas 60% dalam hal kesuksesan. Dan tentunya Mac termasuk golongan tersukses apabila dibandingkan koleganya sebagai seorang warga negara Amerika Serikat.

Namun prestasi karir seperti ini menjadi biasa saja ketika Mac & Janet pindah ke kawasan elit di Upper Manhattan. Lokasi tempat tinggal ini memang tidak jauh dari tempat kerjanya si Mac, dan Mac sangat terbantu karena lokasi yang strategis.

Barangkali istrinya (menurut penulis) tidak melihat kesuksesan dari sisi kesuksesan yang telah dicapai tetapi melihat kesuksesan Mac relatif pada lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Upper Manhattan. Orang-orang yang tinggal di lokasi itu termasuk sukses dan tidak ada satu pun orang-orang yang tinggal di daerah itu dikenal sebagai pecundang.

Performa Mac tentunya menjadi biasa-biasa aja dan istrinya meninggalkannya, bahkan kemudian Janet menikah dengan orang lain yang memiliki profesi yang sama seperti Mac namun nampaknya Janet merasa lebih bahagia.

randomness1Menurut Penulis (baca: Nassim Nicholas Taleb) si istri tidak dapat membedakan antara kemungkintan-kemungkinan (probabilitas) dan keacakan (randomness) dalam kehidupan, sehingga si istri terperangkap dalam keacakan dalam kehidupannya. Kalau saja dia bisa memahami adanya kemungkinan-kemungkinan yang telah dicapai oleh Mac, sebagai contohya apabila si Mac tinggal di wilayah lain yang tidak se-glamour Upper Manhattan barangkali keluarga Mac dan Janet terlihat paling berhasil dan Janet akan menghargai kesuksesan suaminya itu.

Namun siapa tahu di balik semua itu barangkali memang sebenarnya manusia mudah terperangkap dengan "fakta nyata"yang dihadapkan padanya, serta tidak dapat dengan mudah melihat sesuatu yang abstrak di luar fakta yang ada. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda akan mengambil sikap yang sama seperti Janet?


Wallahu 'alam bi showab

Friday, March 20, 2009

Tahun 2009 Apakah Akan Menjadi Tahun yang Sulit Bagi Dunia Perbankan di Indonesia?

bankAssalammu'alaikum Wr. Wb.

Seperti sudah kita ketahui bahwa suku bunga BI telah diturunkan menjadi 7,75% yang seharusnya diikuti oleh penurunan suku bunga kredit dari perbankan yang sekarang masih nangkring di level 15-16%.

Net loan pada perbankan akan mengalami penurunan, karena industri perbankan tidak bisa dipaksa untuk mengeluarkan kredit di masa krisis seperti ini. Debitur yang baik berusaha mengurangi pinjaman kepada perbankan, dan perbankan tidak mau memberikan kredit kepada debitur nakal. Biaya provisi dan biaya operasi lainnya juga akan bertambah karena mereka enggan menurunkan suku bunga. Perbankan benar-benar dalam keadaan sulit terutama lagi apabila industri ini tidak dibantu oleh pemerintah.

Ditambah lagi dengan turunnya BI Rate di atas maka korporasi dan negara juga berlomba-lomba untuk menerbitkan surat hutang baru (obligasi/bond) baik konvensional maupun sukuk. Terutama bagi korporasi yang sebagian besar obligasnya akan jatuh tempo di tahun 2009 ini, kemungkinan korporasi akan menerbitkan obligasi baru untuk membayar obligasi yang jatuh tempo.

Pemerintah melalui kesepakatan pada pertemuan G20 yang harus menyiapkan dana stimulus untuk meredam krisis hingga 2% dari GDP, juga akan menerbitkan instrumen-instrumen surat berharga seperti sukuk global, samurai bond, Islamic Treasury Bills yang akan menyerap likuiditas dari pasar dengan menjanjikan yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan Deposito.

Analisa yang menarik adanya kemungkinan M&A (baca: Merger dan Akuisisi) pada industri keuangan di Indonesia untuk mengatasi berbagai risiko seperti risiko likuiditas, kredit, suku bunga dan lain sebagainya. Dengan adanya M&A juga akan menarik investor luar untuk menanamkan dananya pada industri perbankan nasional, paling tidak setiap individu/institusi memberikan kontribusinya pada masa krisis tidak hanya mengandalkan pemerintah yang sudah bekerja keras untuk memberikan stimulus pada industri yang memang membutuhkan atau pun rakyat yang terkena dampak PHK atau program kesehatan dan pendidikan yang memang memerlukan perhatian penuh.

Maka tahun 2009 ini menjadi tahun yang cukup menentukan apakah industri ini, apakah bisa bertahan dalam badai yang besar?

wallahu'alam bi showab

Industri Retail Akankah Tergerus oleh Krisis di Tahun 2009?

adAssalammu'alakum Wr. Wb.

Menulis mengenai performa industri yang dikaitkan dengan marketing sebenarnya sangat menarik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa krisis ini benar-benar mengandalkan sektor konsumsi terutama konsumsi dalam negeri. Pada kasus ini industri retail menjadi salah satu sektor penting yang akan mendukung ekonomi Indonesia. Walaupun pada tahun ini industri retail nasional diprediksikan akan tetap bertumbuh namun pertumbuhannya tidak akan siknifikan, menurut Aprindo pertumbuhan industri ini hanya mencapai 5-10% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 20%.

Bagi masyarakat di luar jawa yang mengandalkan industri pertanian dan pertambangan akan mengalami penurunun purchasing power, padahal kontribusi masyarakat di luar pulau jawa terhadap industri retail begitu siknifikan yaitu mencapai 41% dari seluruh pasar. Jakarta sendiri memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar hingga 34% sedangkan sisanya di seluruh wilayah pulau jawa mencapai 25%.

Secara demografi karakter konsumsi masyarakat akan berubah yaitu mereka akan membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari dibandingkan dengan barang-barang bukan primer seperti fashion dan produk-produk elektronik.
Menurut data yang dikeluarkan oleh AC Nielsen pertumbuhan penjualan untuk 54 produk kategori menunjukkan tendensi menurun pada kuartal 4 tahun 2008. Padahal produk grocery ini memberikan kontribusi hingga 65% dari total penjualan pada industri retail modern.

Kompetisi diantara industri retail modern juga menjadi semakin keras sejak beberapa tahun belakangan. Hypermarket dan minimarket bertumbuh cukup siknifikan sejak tahun 2003-2007 sebesar 29,3% dan 16,6% dibandingkan dengan supermarket yang hanya 13% atau pusat perbelanjaan yang hanya 5,7%. Menurut Aprindo penjualan pada supermarket akan cenderung melambat sedangkan hypermarket dan minimarket akan makin berkembang.

Untuk mendukung hipotesa ini berdasarkan data penjualan dari Alfamart (format minimarket) dan Matahari hypermarket (format hypermarket) menunjukkan pertumbuhan tahunan secara compounding (CAGR) pada tahun 2006-2008 mencapai 29,4% dan 35% sedangkan Matahari supermarket malahan -14,8%.
Hypermarket cenderung dipilih oleh para konsumen karena mereka memberikan format “one stop shopping” yang memberikan berbagai macam produk pada harga yang lebih murah, dan ketersediaan stok. Hypermarket sangat strategis dari sisi letak, nyaman, dan memiliki lapangan parkir yang luas, ini mengapa konsumen lebih menykai haypermarket.
Sekarang berkembang model multiformat yaitu hypermarket melakukan ekspansi dengan membeli supermarket sebagai contoh Carrefour Indonesia. Atau seperti Matahari yang memiliki hypermarket, supermarket dan departemen store pada saat yang bersamaan.
Melihat kecenderungan ini, industri ini dikuasai oleh hanya beberapa pengusaha (oligopoly) yang menyebabkan posisi retailer relatif lebih kuat dibandingkan dengan posisi supplier.
Kompetisi pada indutri retail modern juga diwarnai oleh kompetisi oleh retailer asing dan lokal terutama menurut Perpres No. 77/2007 yang memungkinkan asing untuk melakukan investasi langsung pada bisnis supermarket pada area 400-5000m2. Sesuai dengan peraturan pemerintah ini dibolehkan untuk mendapatkan 100% share.

Retailer lokal yang tadinya menguasai pasar di beberapa lokasi akan menambah kompetisi pada industri retail modern. Di Jawa Barat ada Yogya dan Borobudur yang memiliki outlet-outlet di luar jawa. Namun masalah klasik mengenai kompetisi antara retailer tradisional dan modern tetap masih timbul walaupun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan zoning. Kebijakan zoning adalah sebuah system yang membatasi industri retail modern untuk beroperasi sehingga retail tradisional dapat terlindungi dari kompetisi langsung dengan retailer modern. Persyaratan utama pada kebijakan ini adalah melaukan pemetaan mengenai zona yang potensial yang dapat dimasuki oleh industri retail modern.

Dengan kondisi pelemahan mata uang rupiah belakangan ini maka industri retail yang mengandalkan import akan sangat tertekan. Sebagai contoh Mitra Adiperkasa yang memegang lisensi beberapa merek internasional seperti Nine, west, Next, Nautica, Lacoste,Spalding, Kipling, Zara, dll. Namun dengan market targeting dan segmentasi pasar yang baik, serta program-program marketing atau pun promosi yang dilakukan oleh para pemegang lisensi brand ini di beberapa surat kabar sangat efektif untuk meningkatkan penjualan.

Akan kita lihat apakah industri yang sangat penting ini akan tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini, apalagi ajakan untuk pemerintah maupun masyarakat untuk lebih mengkonsumsi produk dalam negeri, walaupun dari sisi kualitas produk-produk dalam negeri ini tidak kalah namun dari sisi program dan promosi sepertinya produk-produk import masih mendominasi industri retail nasional.

wallahu'alam bi showab

Friday, March 6, 2009

Pertumbuhan Ekonomi dan Kebahagiaan

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Membaca beberapa tulisan sebelumnya bahwa uang sangat terbatas dalam menjawab kunci kebahagiaan. Hal ini bisa berarti sebuah negara yang menginginkan kebahagiaan warganya maka yang dikejar sebenarnya bukanlah pertumbuhan ekonomi (baca: GNP) yang tinggi, melainkan digantikan dengan investasi uang, tenaga, dan pikiran yang memprioritaskan dan mempromosikan kepemimpinan yang baik dan terbuka, kebebasan dalam berbangsa dan bernegara, demokrasi, serta menjamin keselamatan atau memberikan perlindungan kepada khalayak publik.

Namun jika suatu negara ingin membeli pertumbuhan, maka negara tersebut harus mulai melihat tingkah laku manusia. Kebanyakan tingkah laku ini adalah tidak waras misalnya ketika orang-orang bekerja lebih keras dan lebih lama dalam waktu bertahun-tahun hanya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan keuangan. Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan meningkat ketika masyarakatnya terdilusi akan kepercayaan bahwa dengan mereka memiliki kekayaan lebih banyak akan membuat mereka lebih bahagia.

Ekonomi suatu negara akan bertumbuh ketika masyarakatnya berusaha keras untuk mencapai pertumbuhan, namun alasan utama orang-orang ini berusaha keras adalah karena untuk mencapai kebahagiaan diri mereka sendiri. Maka adalah penting bahwa diri mereka percaya dengan sebuah ide yang menjunjung tinggi dengan memproduksi dan mengkonsumsi lebih banyak akan membuat diri mereka lebih bahagia. Dengan kata lain jika kita ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi negara kita, maka lupakanlah ide bahwa uang tidak membeli kebahagiaan kita.

Wallahu’alam bi showab